Rabu, 23 Mei 2018

PRESTASI MAHASISWA UIN SUNAN KALIJAGA

http://duniapengetahuandansastra.blogspot.co.id/2016/03/prestasi-mahasiswa-uin-sunan-kalijaga.html

(TW-Humas oleh Doni) (Editor oleh Adenar Dirham)
  Sumber Artikel dan bisa mengunjungi : uin-suka(dot)ac(dot)id, pilih menu liputan.
 Perhatian: Gambar hanya ilustrasi.

UIN Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga atau yang lebih dikenal dengan kampus putih merupakan suatu universitas berasas islam terkemuka di Indonesia. Di era revolusi saat inil, terciptalah prestasi gemilang mahasiswa UIN Yogyakarta. Mereka adalah:
1.) Moh. Habibi akrab disapa Habib (Semester 3 dari Prodi Ilmu Komunikasi,, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora),
2.) Ardi Putra yang lebih dekat dipanggil Adi (Semester 7, Prodi Tafsir Hadits dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam)
3.) Shima Dewi Mutiara Trisna yang biasa disebut Yayuk (Semester 7 berasal Prodi Muamalat ini Fakultas Syariah dan Hukum)



Mereka ini, alhamdulillah berhasil mewakili UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam acara Student Mobility Program (SM-Pro) 2015, yang diselenggarakan atau berlangsung di kota Perth, Australia. Ketiga mahasiswa luar biasa tersebut dinyatakan lulus oleh pihak SM-Pro 2015, setelah mengikuti beberapa tahap seleksi dari ribuan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagaaman Islam (PTKI) baik negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Wow, keren.

Nah, program yang diselengarakan oleh "DIKTIS" Kementerian Agama Republik Indonesia ini, diadakan guna memberikan peluang terbuka kepada mahasiswa S1 pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang berminat untuk memperoleh pengalaman akademik, serta sejumlah program pengembangan kapasitas di luar negeri. Ini mencerminkan hal yang unik, menarik dan kredibel untuk kependidikan di Indonesia.

Adapun dalam kegiatan ini berlangsung kurang lebih selama 9 hari, cukup lama ya. Namun, sehari sebelumnya mereka mengikuti Pre Departure Orientation di Kota Denpasar, Pulau Bali, bersama wah, lebih dari 23 atau sekitar 24 mahasiswa peserta lainnya. Dalam SM-Pro 2015 yang juga merupakan bagian dari beasiswa Ministry of Religious Affairs (MORA) Scholarship, mereka mengenalkan keramahan dunia Islam dan keberagaman budaya Indonesia yang memang indah, eksotis dan berbeda dari yang lain.

Seperti yang kita ketahui, maksudnya dalam proses masuknya agama Islam ke Nusantara, sejarah  mengatakan bahwasanya misalnya dalam sejarahWalisongo, toleransi dalam beragama, keunikan dan sistem pendidikan Pesantren, serta beberapa tradisi serta budaya-budaya loka Indonesia yang kaya akan nilai-nilai keislaman.

Untuk semua civitas akademik, mereka juga rupanya  melakukan kunjungan atau wisata pendidikan ke beberapa kampus, antara lain ke Curtin University, dan The University of Western Australia (UWA). Dan lebih tepatnya Ketiga mahasiswa tersebut pun berkunjung ke Kings Park, salah satu taman kota terbesar di dunia. Wow, begitu indahnya ya dan pengalaman yang mungkin tidak dapat mereka lupakan begitu saja selama mengenyam pendidikan di UIN Yogyakarta. Di tempat itu dikenalkan Swan River, yakni sungai yang didiami populasi angsa hitam. Dan uniknya, sungai itu yang membelah kota Perth. Ada lagi WA Museum & Shipwreck Galleries, museum sejarah kemaritiman di Australia, tepatnya di kota pelabuhan Fremantle.

Selain itu mereka diperkenalkan Caversham Wildlife Park, kebun binatang yang mengoleksi hewan-hewan khas negeri 1001 kanguru itu atau sebut saja Negeri Kanguru karena banyaknya jenis mamalia yang hidup di sana dan sepertinya memang asal muasal kanguru adalah dari Australia.

Rasanya, berkunjung ke sana tidak akan lebih berkesan tanpa berkunjung ke Cottesloe Beach yang merupakan salah satu pantai berpasir putih terbaik di jagat raya. Selama di Kota Perth, mereka enak sekali ya bisa mengenal seluk beluk negeri paling selatan dari Indoensia itu. Mereka belajar tentang sejarah dan perekonomian Australia, kebudayaan  Suku Aborigin , yakni suku asli di tanah Australia, adapula education, scholarship, leadership training, entrepreneurship, serta isu-isu global, termasuk juga terkait atau yang ada sangkut pautnya tentang pandangan masyarakat Australia terhadap Islam.

Selain itu, mereka juga mempelajari tentang bagaimana untuk memahami dan menghargai  atau mengenalkan hal-hal yang berbeda dengan kita ini. Adanya hal itu, yakni seperti budaya, bahasa, dan agama.
Tahukah anda? Selama di sana, luar biasa agenda acara yang padat menuntut kedisiplinan mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Bukan hanya itu, melainkan perbedaan cuaca di Australia dengan Indonesia juga melatih mereka untuk selalu menjaga kesehatan selama mengikuti serangkaian acara disana.

Dikutip dari UIN SUKA, “Aku bersyukur sekali dapat mengikuti dan berpartisipasi dalam program yang satu ini, oke, terima kasih kuucapkan pada semua pihak dan civitas akademika Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Uh, banyak sekali ilmu,  pengetahuan dan wawasan baru yang saya dapatkan selama kurang lebih 3 semester ini belajar di kampus tercintaku ini. Jendela cakrawalaku seolah-olah terbentang lebar. Magnet UIN Sunan Kalijaga menjadi pintu gerbang saya untuk melangkah ke dunia luar atau dunia asing untuk lebih menghayati, memperlebar sekaligu memperluas wawasan diriku, juga pengetahuan diriku. Aku melihat, begitupun merasakan langsung di dunia perkuliahan di beberapa misalnya kampus-kampus di negara Australia yang sungguh menjadi pengalaman yang menarik lagi berkesan, aku ini hanya bisa belajar dan membandingkan dengan dunia akademik yang saya jalani selama ini. Hal inilah, saya bisa mendapatkan sebuah pengalaman dan menjadi spirit baru untuk lebih semangat lagi dalam menjalani perkuliahan dan berbagi pengetahuan yang saya dapatkan dari Student Mobility Program tahun 2015 ini kepada teman-teman seperjuangan, khusunya rekan-rekan mahasiswa di lingkungan UIN Sunan Kalijaga dan lainnya”, ujar Mohammad Habibi, yang lebih ideal disapa Habib, melalui salah satu delegasi MORA Scholarship.



SELAMAT BERJUANG BAGI PARA GENERASI ATAU CALON MAHASISWA/MAHASISWI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA UNTUK MERAIH MASA DEPAN YANG LEBIH GEMILANG DAN MENJADI KEBANGGAN TERSENDIRI MENJADI BAGIAN DARI KAMPUS BERBASIS ISLAM INI DENGAN SUASANA KOTA YOGYAKARTA YANG BERSAHAJA BAGI SIAPA SAJA SEKALIPUN ANDA SEORANG PERANTAU. ANDA HARUS BISA BERADAPTASI DENGAN KOTA YANG SATU INI, MAKA ANDA AKAN SELAMAT. "DI MANA BUMI BERPIJAK, DI SITU ADAT DIJUNJUNG."

 YAKIN KALIAN PASTI BISA SEPERTI MEREKA. KALAU MEREKA BISA, ANDA PUN PASTI DEMIKIAN! SALAM PERGERAKAN! SALAM DEMOKRASI!

Sabtu, 24 Maret 2018

Jeritan Hati Wanita Malang

Oleh: Irawati Ada kalanya aku tersungkur begitu dalam.Barangkali niatku tak mengindahkan harapan kebanyakan orang, tapi salahkan semua ini?Di tengah deraian air mata kuselipkan sebuah pertanyaan, apa yang akan terjadi? seakan seantero bumi merasakan getaran jiwa, dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.Lihatlah, burung-burung berkicau seakan menertawakan kehinaanku,Lihatlah, matahari tersenyum seakan hendak mengejekku.Bagaimana denganku? Aku seperti manusia yang kehilangan akal, dideru berbagai alur kehidupan, yang semakin hari semakin menyesakan dada.

Rabu, 07 Maret 2018


SEJARAH KAMPUS PUTIH

Periode ini dimulai dengan Penegerian Fakultas Agama Universitas Islam  Indonesia (UII) menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950 Tanggal 14 Agustus 1950 dan Peresmian PTAIN pada tanggal 26 September 1951. Pada Periode ini, terjadi pula peleburan PTAIN (didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950) dan ADIA (didirikan berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1957) dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 Tanggal 9 Mei 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan nama Al-Jami'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah. pada periode ini, PTAIN berada di bawah kepemimpinan KHR Moh Adnan (1951-1959) dan Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)


➤1960-1972

Periode Peletakan Landasan  Periode ini ditandai dengan Peresmian IAIN pada tanggal 24 Agustus 1960. Pada periode ini, terjadi pemisahan IAIN. Pertama berpusat di Yogyakarta dan kedua, berpusat di Jakarta berdasarkan Keputusan Agama Nomor 49 Tahun 1963 Tanggal 25 Februari 1963. Pada periode ini, IAIN Yogyakarta diberi nama IAIN Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 26 Tahun 1965 Tanggal 1 Juli 1965. Pada periode ini telah dilakukan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, dimulai dengan pemindahan kampus lama (di Jalan Simanjuntak, yang sekarang menjadi gedung MAN 1 Yogyakarta ) ke kampus baru yang jauh lebih luas (di Jalan Marsda Adisucipto Yogyakarta). Sejumlah gedung fakultas dibangun dan di tengah-tengahnya dibangun pula sebuah masjid yang masih berdiri kokoh. Sistem pendidikan yang berlaku pada periode ini masih bersifat 'bebas' karena mahasiswa diberi kesempatan untuk maju ujian setelah mereka benar-benar mempersiapkan diri. Adapun materi kurikulumnya masih mengacu pada kurikulum Timur Tengah (Universitas Al-Azhar, Mesir) yang telah dikembangkan pada masa PTAIN. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. RHA Soenarjo, SH (1960-1972).


➤1972-1996

Periode Peletakan Landasan Akademik   Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga dipimpin secara berturut-turut oleh Kolonel Drs. H. Bakri Syahid (1972-1976), Prof. H. Zaini Dahlan, MA (selama 2 masa jabatan: 1976-1980 dan 1980-1983), Prof. Dr. HA Mu'in Umar (1983-1992) dan Prof. Dr. Simuh (1992-1996). Pada periodeini, pembangunan sarana prasarana fisik kampus meliputi pembangunan gedung Fakultas Dakwah, Perpustakaan, Program Pascasarjana, dan Rektorat dilanjutkan. Sistem pendidikan yang digunakan pada periode ini mulai bergeser dari 'sistem liberal' ke 'sistem terpimpin' dengan mengintrodusir 'sistem semester semu' dan akhirnya 'sistem kredit semester murni'. Dari segi kurikulum, IAIN Sunan Kalijaga telah mengalami penyesuaian    yang radikal dengan kebutuhan nasional bangsa Indonesia. Jumlah fakultas bertambah menjadi 5 (lima); yaitu Fakultas Adab, Dakwah, Syari'ah, Tarbiyah dan Ushuluddin. Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga dibuka pada periode ini, tepatnya pada tahun akademik 1983/1984. Program Pascasarjana ini telah diawali dengan kegiatan-kegiatan akademik dalam bentuk short courses on Islamic studies dengan nama Post Graduate Course (PGC) dan Studi Purna Sarjana (PPS) yang diselenggarakan tanpa pemberian gelar setingkat Master. Untuk itu, pembukaan Program pAscasarjana pada dasawarsa delapan puluhan tersebut telah mengukuhkan fungsi IAIN Sunan Kalijaga sebagai lembaga akademik tingkat tinggi setingkat di atas Program Strata Satu.

 

➤1996-2001

Periode Pemantapan Akademik dan Manajemen  Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga berada di bawah kepemimpinan Prof. Dr. HM. Atho Mudzhar (1997-2001). Pada periode ini, upaya peningkatan mutu akademik, khususnya mutu dosen (tenaga edukatif) dan mutu alumni, terus dilanjutkan. Para dosen dalam jumlah yang besar didorong dan diberikan kesempatan untuk melanjutkan studi, baik untuk tingkat Magister (S2) maupun Doktor (S3) dalam berbagai disiplin ilmu, baik di dalam maupun di luar negeri. Demikian pula peningkatan sumber daya manusia bagi tenaga administratif dilakukan untuk meningkatkan kualitas manajemen dan pelayanan administrasi akademik. Pada periode ini, IAIN Sunan Kalijaga semakin berkonsentrasi untuk meningkatkan orientasi akademiknya dan mengokohkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan tinggi. Jumlah tenaga dosen yang bergelar Doktor dan Guru Besar meningkat disertai dengan peningkatan dalam jumlah koleksi perpustakaan dan sistem layanannya.


➤2001-2010

Periode Pengembangan Kelembagaan  Periode ini dapat disebut sebagai 'Periode Trasformasi', karena, pada periode ini telah terjadi peristiwa penting dalam perkembangan kelembagaan pendidikan tinggi Islam tertua di tanah air, yaitu Transformasi Institut Agama ISlam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 2004 Tanggal 21 Juni 2004. Deklarasi UIN Sunan Kalijaga dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2004. Periode ini di bawah kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah (2001-2005) dengan Pembantu Rektor Bidang Akademik Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, MA., Ph.D, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum Drs. H. Masyhudi, BBA, M.Si. dan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Dr. H. Ismail Lubis, MA (Almarhum) yang kemudian digantikan oleh Dr. Maragustam Siregar, MA. Pada periode kedua (2006-2010) dari kepemimpinan Prof. Dr. HM. Amin Abdullah telah dibentuk Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama. Dengan ditetapkannya keberadaan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama, maka kepemimpinan UIN Sunan Kalijaga pada periode kedua ini adalah sebagai berikut : PEmbantu Rektor Bidang Akademik, Dr. H. Sukamta, MA, Pembantu Rektor Bidang Administrasi Umum, Dr. H. Tasman Hamami, MA, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Maragustam Siregar, MA, dan Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama dijabat oleh Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, MA.
Perubahan Institut menjadi universitas dilakukan untuk mencanangkan sebuah paradigma baru dalam melihat dan melakukan studi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, yaitu paradigma Integrasi interkoneksi. Paradigma ini mensyaratkan adanya upaya untuk mendialogkan secara terbuka dan intensif antara hadlarah an-nas, hadlarah al-ilm, dan hadlarah al-falsafah. Dengan paradigma ini, UIN Sunan Kalijaga semakin menegaskan kepeduliannya terhadap perkembangan masyarakat muslim khususnya dan masyarakat umum pada umumnya. Pemaduan dan pengaitan kedua bidang studi yang sebelumnya dipandang secara dimatral berbeda memungkinkan lahirnya pemahaman Islam yang ramah, demokratis, dan menjadi rahmatan lil 'alamin.


Sumber:http://uin-suka.ac.id/page/universitas/1-sejarahhttp://uin-suka.ac.id/page/universitas/1-sejarah


Multi Level Marketing (MLM) dalam perspektif Syariah

Multi Level Marketing (MLM) dalam Perspektif Syariah Tugas ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Fiqh Muammalah Kontemporer D...